Konteks Kejadian 26 dalam Kisah Ishak
Kejadian 26 adalah satu-satunya pasal dalam Kitab Kejadian yang seluruhnya berfokus pada Ishak sebagai tokoh utama. Ishak sering berada di antara dua nama besar, yaitu Abraham ayahnya dan Yakub anaknya. Namun di pasal ini, kita melihat imannya diuji dan diberkati secara pribadi.
Pasal ini penuh dengan pola pengulangan dari kehidupan Abraham: kelaparan, perjalanan ke Gerar, ketakutan terhadap raja, dan sengketa sumur dengan Abimelekh. Namun di balik pengulangan itu, kita melihat satu kebenaran yang konsisten: Allah setia menepati janji perjanjian-Nya, bukan karena kesempurnaan manusia, melainkan karena kesetiaan-Nya sendiri.
1. Peneguhan Janji di Tengah Kelaparan
Terjadilah kelaparan di negeri itu, dan Ishak bermaksud pergi ke Gerar, wilayah Abimelekh, raja orang Filistin. Namun Tuhan menampakkan diri kepadanya dan melarangnya pergi ke Mesir. Sebaliknya, Tuhan menyuruhnya tinggal di negeri itu sebagai orang asing dengan janji penyertaan dan berkat.
Kesulitan Bukan Tanda Ditinggalkan
Menariknya, sekalipun Ishak adalah anak Tuhan yang tinggal di tanah perjanjian, ia tetap mengalami kelaparan. Ini mengajarkan bahwa penderitaan atau kesulitan tidak selalu berarti Allah meninggalkan atau tidak memberkati kita. Orang percaya pun dapat mengalami masa sulit tanpa berarti ia telah berbuat dosa.
Kehendak Allah Bisa Berbeda untuk Setiap Orang
Ada pelajaran halus yang sering terlewat di sini. Ketika Abraham mengalami kelaparan, ia pergi ke Mesir dan Tuhan tidak melarangnya. Ketika Ishak mengalami kelaparan, Tuhan justru melarangnya pergi ke Mesir. Kelak, ketika Yakub mengalami kelaparan, Tuhan malah menyuruhnya pergi ke Mesir. Situasinya sama, tetapi kehendak Tuhan berbeda-beda. Ini mengingatkan kita untuk tidak sembarangan meniru langkah orang lain, melainkan mencari kehendak Tuhan secara pribadi.
Tuhan mengulangi janji-Nya yang pernah diberikan kepada Abraham, yaitu tentang keturunan sebanyak bintang di langit, kepemilikan tanah, dan berkat bagi segala bangsa. Ketika keadaan tampak bertentangan dengan janji Allah, di situlah kita justru harus semakin merenungkan janji-Nya agar keraguan dihancurkan.
2. Ketakutan Ishak dan Teguran Abimelekh
Sama seperti ayahnya, Ishak takut dibunuh karena kecantikan Ribka. Maka ia berkata bahwa Ribka adalah saudaranya, bukan istrinya. Namun kebohongan itu terbongkar ketika Abimelekh melihat Ishak sedang bercumbu dengan Ribka. Abimelekh menegur Ishak karena kebohongannya hampir mendatangkan kesalahan atas bangsanya.
Dosa yang Diwariskan
Ini adalah pelajaran yang serius. Ishak mengulangi dosa yang sama dengan ayahnya, bahkan Abraham melakukannya dua kali. Kelemahan orang tua sering menjadi batu sandungan yang diwarisi anak-anak. Kejatuhan mereka yang mendahului kita menjadi peringatan agar kita tidak jatuh di tempat yang sama.
Namun perhatikanlah anugerah Allah. Meskipun Ishak gagal, Allah tetap melindunginya. Abimelekh justru mengeluarkan perintah agar tidak seorang pun mengganggu Ishak dan Ribka. Allah memelihara umat-Nya bukan karena kesempurnaan mereka, melainkan karena kesetiaan-Nya.
3. Diberkati di Tengah Kesulitan
Ishak menabur di negeri itu dan pada tahun yang sama ia menuai seratus kali lipat, sebab Tuhan memberkatinya. Ia menjadi kaya, bahkan semakin lama semakin kaya, sampai orang Filistin cemburu kepadanya. Berkat Allah nyata bahkan di tahun yang penuh kesulitan.
Berkat Dapat Menimbulkan Kecemburuan
Ini adalah kenyataan dunia. Semakin banyak seseorang diberkati, semakin ia rentan menjadi sasaran iri hati. Orang Filistin menutup semua sumur yang dahulu digali oleh hamba-hamba Abraham, dan Abimelekh meminta Ishak pergi karena ia dianggap terlalu kuat. Namun Ishak tidak melawan. Ia memilih untuk pergi dengan damai.
4. Sengketa Sumur: Esek, Sitna, dan Rehobot
Ishak menggali kembali sumur-sumur yang dahulu digali pada zaman Abraham, yang telah ditutup oleh orang Filistin. Namun para gembala Gerar bertengkar memperebutkan sumur yang ditemukan Ishak. Sumur pertama dinamai Esek, yang berarti pertengkaran. Sumur kedua dinamai Sitna, yang berarti perseteruan. Keduanya direbut, tetapi Ishak tidak ngotot mempertahankannya.
Rehobot: Kelapangan dari Tuhan
Ishak terus bergerak dan menggali sumur ketiga, yang tidak diperebutkan. Sumur itu dinamai Rehobot, yang berarti kelapangan. Ishak berkata, "Sekarang Tuhan telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini." Ishak memilih untuk mengalah, dan justru dalam mengalah itu ia menemukan kelapangan dari Tuhan.
Iman yang Memilih Damai
Sikap Ishak mengajarkan hikmat yang dalam. Ia tidak mempertahankan haknya dengan kekerasan atau pertengkaran. Ia rela melepaskan sumur-sumur yang direbut demi menjaga damai. Hikmat yang dari atas mengajar kita untuk menyerahkan hak dan menjauh dari perselisihan. Ketika kita diusir secara tidak adil dari satu tempat, Tuhan sanggup membuka tempat lain bagi kita.
5. Bersyeba: Peneguhan dan Penyembahan
Ishak pergi ke Bersyeba. Di sana Tuhan menampakkan diri kepadanya pada malam itu dan meneguhkan kembali janji-Nya, dengan berkata agar Ishak tidak takut karena Tuhan menyertainya. Sebagai respons, Ishak mendirikan mezbah, memanggil nama Tuhan, dan menegakkan kemahnya di sana.
Perhatikan pola imannya. Setelah melalui konflik dan pergumulan, Ishak kembali kepada penyembahan. Ketika Allah meneguhkan janji-Nya, respons yang benar adalah menyembah dan membangun kembali persekutuan dengan Tuhan.
6. Perjanjian Damai dengan Abimelekh
Yang menakjubkan, Abimelekh yang dahulu mengusir Ishak justru datang menemuinya bersama panglimanya untuk membuat perjanjian damai. Mereka berkata, "Kami telah melihat dengan nyata bahwa Tuhan menyertai engkau." Musuh yang dahulu mengusir kini mengakui penyertaan Allah atas hidup Ishak.
Ketika Tuhan Membuat Musuh Berdamai
Amsal berkata bahwa apabila jalan seseorang berkenan kepada Tuhan, maka musuhnya pun didamaikan-Nya dengan dia. Kesabaran, integritas, dan kesediaan Ishak untuk mengalah akhirnya menghasilkan
.png)
0 komentar:
Posting Komentar